| KADIPATEN PAKUALAMAN DAN RESTORASI PENDIDIKAN |
|
|
|
| Artikel | |
| Written by Ki Priyo Dwiarso | |
| Saturday, 29 May 2010 07:00 | |
|
Wilayah projo Kadipaten Pakualaman sebagian besar terbentang di wilayah Kulon Progo yang berkapur, berawa, dengan pengairan tadah hujan. Pertanian di daerah rawa dikenal dengan sistem “sawah surjan” dengan ciri di tengah sawah ada tanah gundukan yang ditanami palawija. Di atas tanah gundukan yang ditinggikan tersebut relatif tidak becek walau ditanam ditengah rawa-rawa, sehingga tanaman palawija tidak membusuk sampai dengan masa panen. Menyadari akan aset Kadipaten Pakualaman tersebut, maka guna mewarisi putra sentono (kerabat keraton), maka KGPAA Paku Alam III (GPH Sasraningrat) yang bertahta dari tanggal 19 Desember 1858 s.d. 17 Oktober 1864 ingin mewariskan kepandaian/keilmuan. Kemudian dihimpunnya dana keraton dalam Studen Fond yaitu sediaan dana bagi kelanjutan pendidikan (barat) kepada para sentono. Kebijakan ini berlanjut hingga KGPAA Paku Alam V (KGPAA Suryodilogo) yang bertahta dari 10 Oktober 1878 s.d. 6 September 1900. Para sentono banyak yang berhasil mengenyam pendidikan baik di Indonesia maupun ke negeri Belanda. Pada jaman kolonial tersebut, banyak sentono Pakualaman yang menjadi sarjana pribumi pertama di Indonesia antara lain Ir KPH Wreksodiningrat, Suster Maria Clara dll. Pada perang kemerdekaan tahun 1946 s.d. 1949, Ir Wreksodiningrat aktif membantu perang gerilya yaitu memberi pengetahuan guna melumpuhkan agressor Belanda dengan menghancurkan obyek yang vital. Sebagai guru besar Fakultas Teknik UGM, Ir Wreksodiningrat berhasil mencetak alumni UGM yang menjabat menteri, intelektual dan ahli bangunan dalam masa pembangunan. Demikian pula sarjana-sarjana sentono Pakualaman yang lain ikut berjuang merebut kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan menuju Negara yang adil makmur. RM Suwardi Suryaningrat (RM SS) cucu KGPAA Paku Alam III termasuk sentono dalem yang mengenyam pendidikan di Stovia Jakarta atas beban biaya student fond. Namun komitmen KGPAA Paku Alam VI juga diperlihatkan pada tahun 1913 saat menjenguk RM Suwardi Suryaningrat didalam penjara karena membuat tulisan protes atas Peringatan Kemerdekaan Belanda berjudul “Als ik een Nederlander was”. KGPAA Paku Alam VI bahkan mendukung sikap RM SS dengan meyakinkan kebenaran sikap politiknya untuk tetap melawan. Pesan inilah yang antara lain memperkuat RM SS untuk tegar menuju tanah pembuangan sambil menempuh pendidikan paedagogi di negeri Belanda. Atas saran sang isteri, RM SS mengalihkan perjuangan jalur politik menjadi jalur pendidikan bangsa. Dengan ilmu paedagoginya tersebut RM SS mengembangkan pendidikan nasional berupa perpaduan pendidikan ala Barat dikonsentriskan dengan kebijakan lokal yang telah berlaku. Lahirlah antara lain konsep tut wuri handayani dalam pelaksanaan system among di perguruan Tamansiswa yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1922. Konsep TRI NGO yaitu Ngerti, Ngroso, Nglakoni kini lebih dikenal dengan metoda kognitif, afektif dan psikomotorik. RM SS lebih mengutamakan pendidikan jiwa merdeka lahir batin dan tenaganya agar siswanya mampu mendukung kemerdekaan bangsanya. Demikian juga setelah kemerdekaan, alumni Tamansiswa harus berjiwa merdeka lahir batin agar tidak terjajah oleh imperialisme modern. Pada awal berdirinya Tamansiswa membuat model perguruan “wiyata griya” yaitu inspirasi dari sistem pendidikan pawiyatan, padepokan, pondok. Kegiatan belajar dengan mewajibkan siswa tinggal di asrama mengutamakan suasana kekeluargaan yaitu kasih sayang suci dari orang tua kandung. Pengajaran dilaksanakan 24 jam dalam sehari dan pamong/guru bertindak selaku pengganti orang tua di perguruan. Wiyata Griya hingga kini secara konsisten masih dilaksanakan di SMA Taruna Nusantara Magelang. Itulah keunggulan konsep pendidikan RM SS sehingga ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Dengan Ketetapan Presiden no. 316/1959 tanggal 16 Mei 1959, dan hari lahir RM SS tanggal 2 Mei dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik benang merah betapa restorasi pendidikan Kadipaten Pakualaman ini secara tidak langsung memberi warna dan tuntunan bagi sistem pendidikan nasional di Indonesia. Kebijakan Kadipaten Pakualaman berlanjut hingga KGPAA Paku Alam VIII yang bersama-sama Sultan Hamengkubuwono IX bertekad bulat bersatu dengan NKRI agar regenerasi dan pendidikan rakyat dapat maksimal di alam kemerdekaan.
|
|
| Last Updated on Wednesday, 24 November 2010 04:52 |
Kalau dulu tidak ada orang yang bernama Suwardi Suryanigrat yang kemudian menjadi Ki Hadjar Dewantara, keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia niscaya tak akan seperti yang kita alami. - Bung Karno (Presiden RI pertama) - |
Comments
Info semacam ini sangat langka, baru kali ini saya tahu. Meskipun saya lumayan lama kuliah di Sarjanawiyata dulu. Ternyata masih ada orang yang peduli dengan info-info historis tentang Ketamansiswaan. Sekali lagi saya apresiasi !
RSS feed for comments to this post