Magazine
Nyi Hadjar Dewantoro membersihkan dominasi PKI di tubuh Tamansiswa PDF Print E-mail
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Monday, 29 September 2008 04:29

Nyi Hadjar Dewantoro (NHD) terlahir sebagai RAY Soetartinah Sasraningrat (RAYSS) adalah cucu Sri Paku Alam III dan merupakan sepupu RM Soewardi Soerjaningrat (RMSS) atau Ki Hadjar Dewantoro (KHD). Banyak orang mengenal dan mempelajari pribadi serta konsep-konsep KHD tapi sering lupa atau kurang mengenal siapa sebenarnya NHD.

    RAYSS lahir pada tanggal 14 September 1890 (sama dengan tanggal lahir DR Sumadi Wonohito) dan pada tahun 1907 dipersunting RMSS yang kemudian terpaksa berbulan madu di pengasingan negeri Belanda. Bantuan biaya hidup dari pemerintah kolonial hanya diperuntukkan 1 orang (RMSS) terpaksa dihemat untuk berdua. RMSS harus bekerja sebagai jurnalis (wartawan) dan memperdalam ilmu pendidikan hingga mendapat diploma guna persiapan mendidik bangsanya. RAYSS bekerja sebagai guru Taman Kanak-Kanak (Frobel School) guna menunjang kebutuhan hidup sekaligus menabung biaya pulang ke tanah air hingga putri-putranya Ni Soetapi Asti dan Ki Subroto Haryomataram lahir disana. KHD pernah bercerita untuk menghemat biaya makan sering berbelanja daging jeroan yang harganya murah. Suatu waktu beliau memborong jeroan agak banyak, pemilik toko bertanya apakah anda memelihara banyak anjing?

Last Updated on Monday, 29 September 2008 04:31
 
Tamansiswa untuk Nation and Character Building PDF Print E-mail
Written by I Nyoman Jelun   
Friday, 01 August 2008 00:38
    Pada tgl. 15 Januari 2008 yang lalu, di Kampus Kebangsaan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jln. Kusumanegara 157 Yogyakarta  berlangsung Saresehan Kebangsaan dengan tema:
                   “……… als ik eens Indonesier was ………”
Tema saresehan itu merupakan refleksi dari judul artikel Ki Hadjar Dewantara (KHD) pada sebuah harian terbitan pribumi pada tahun 1913 dengan judul: ” als ik eens Nederlander was”. Melalui artikel itu, KHD menyindir Pemerintah Kerajaan Belanda yang sedang  memperingati 100 thn kemerdekaannya dari penjajahan Prancis (Napoleon Bonaparte). Mereka memperingatinya secara besar-besaran, meriah, dengan berpesta pora menghamburkan banyak uang yang diperoleh dari memeras kekayaan negeri jajahannya. Pesta itu digelar diseluh negeri jajahannya dimana rakyat hidup miskin dengan uang sebenggol sehari, bodoh, dan tidak berdaya. Dalam artikel itu, secara ekplisit KHD berkata: Jika saya seorang Belanda maka saya akan sangat malu memperingati hari kemerdekaan bangsa saya dengan merampas kemerdekaan bangsa lain.  Setelah menulis artikel itu KHD diasingkan ke negeri Blanda.
Last Updated on Saturday, 02 August 2008 07:08
 
RM SUWARDI SURYANINGRAT BANGSAWAN YANG MENJADI BAPAK BANGSA PDF Print E-mail
Written by Jend. Ki Tyasno Sudarto   
Monday, 02 June 2008 02:30

RM Suwardi Suryaningrat (RM SS) seorang bangsawan yang lahir tanggal 2 Mei 1889 merupakan cucu dari Sri Paku Alam III, sedang ayahnya bernama KPH Suryaningrat.  Ibu RM Suwardi Suryaningrat bernama RA Sandiyah yang merupakan buyut dari Nyai Ageng Serang seorang pahlawan nasional prajurit Diponegoro. Sedang Nyai Ageng Serang masih merupakan keturunan dari Sunan Kalijogo. Pendidikan agama didapatnya dari Pesantren Kalasan dibawah asuhan KH Abdurrahman. Sejak awal pengasuh pesantren telah melihat tanda kelebihan pemuda kecil Suwardi. KH Abdurrahman memberi nama  sebagai “Jemblung Trunogati” yang berarti anak mungil dengan perut buncit, tetapi mampu menghimpun pengetahuan yang luas.”
    Berhubung kikis tanah Pakualaman banyak merupakan tanah rawa dan relatif gersang di daerah Kulon Progo, maka Sri Paku Alam V yang bertahta saat itu secara bijak memberi warisan berupa dana untuk sekolah bagi sentono (kerabat keraton). Pemerintah Kolonial memberi keistimewaan kepada para bangsawan (sentono keraton) dan anak amtenaar (pegawai negeri) untuk mendapatkan sekolah yang lebih baik daripada warga biasa. Fasilitas tersebut dimanfaatkan bangsawan RM SS untuk meneruskan kuliah di Stovia (Sekolah Tinggi Dokter Jawa) di Batavia (Jakarta).
Alam kebangkitan nasional yang dirintis dr Soetomo dan kawan-kawannya menjalar kedalam jiwa kebangsaan RM SS. Semula beliau sambil kuliah memperdalam ilmu jurnalistik sebagai penulis, kolumnis dan pemimpin redaksi beberapa majalah dan surat kabar.
Last Updated on Monday, 02 June 2008 02:30
 
MENELUSURI SEJARAH PENDIDIKAN DI INDONESIA PDF Print E-mail
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Monday, 02 June 2008 02:26
Salam sejahtera bagi kita semua.

    Kami menyambut gembira atas prakarsa Bedah Buku Nasional Menggali Butir-Butir Pendidikan RM Suwardi Suryaningrat (RM SS).
RM SS yang kemudian bergelar DR Ki Hadjar Dewantara (KHD) adalah Bapak Bangsa yang ajarannya relevan sepanjang jaman untuk diaplikasikan oleh seluruh lapisan bangsa Indonesia. RM SS adalah cucu Sri Paku Alam III, jadi sebagai kerabat sentono Kadipaten Pakualaman selayaknya bangga kemudian “memetri” konsep gemilang RM SS tentang pendidikan dan kebudayaan dalam ‘Pusat Kajian Ajaran RMSS’
    Dalam pidato pengukuhan DR HC di UGM, beliau sempat mengupas sejarah pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Sejarah pendidikan tradisi yang terdapat di bumi nusantara itu dipelajari oleh RM SS. Dengan bersenjatakan “Trikon” kemudian konsep-konsep pendidikan RM SS disusun, dipadukan, dilahirkan dan diaplikasikan.
    Menulusuri sejarah pendidikan di Indonesia sejatinya sulit karena minimnya keterangan, bukti dan referensi yang mendukung. Kalangan akademisi, perpustakaan tidak banyak memberikan rekomendasi yang kita butuhkan utamanya periode pra penjajahan. Data, manuskrip, prasasti dan barang peninggalan sejarah kejayaan Nusantara banyak diangkut ke luar negeri, hingga tiap penulusuran sejarah di Indonesia mengalami kendala.
Mencermati sejarah Pendidikan tidak dapat lepas dari konteks sejarah Budaya suatu bangsa. Budaya Nusantara termasuk budaya tertua di dunia misalnya tengkorak manusia Sangiran beserta peralatan batu usianya lebih tua dari tengkorak manusia Peking. Prof T. Jacob mengatakan bahwa 2 juta tahun yang lalu Pithecantropus kita telah berkomunikasi linguistik secara terbatas. Bahasa moyang Jawa berkembang secara pelahan-lahan dari sistem tertutup menjadi sistem terbuka. Bahasa protolingua sudah berkembang pada 100 ribu s.d. 40 ribu tahun yang lalu. Perkembangan yang penting terjadi sejak Homosapiens hingga jaman pertanian, dimana hingga saat ini basis masyarakat kita masih bertahan agraris. Pada era ini belum dikenal pendidikan yang tersistem, yang mungkin ada ialah pelatihan ketramplan dengan cara meniru seniornya.

Last Updated on Thursday, 05 June 2008 09:13
 
PROBLEM SOLVING ala KI HADJAR DEWANTARA PDF Print E-mail
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Sunday, 20 April 2008 06:39

(Dimuat pada Harian Kedaulatan Rakyat, Tanggal 3 April 2008)

    Hidup manusia sangat erat dengan stres dan selalu seiring seperjalanan dengan konflik, kontradiksi, perselisihan, dilema, kekecewaan dan sebagainya.
Orang yang pesimis dalam menghadapi kemelut hidup sering bersikap “nelongso” (renjana), menyesali nasib, dendam, bahkan mempertanyakan (protes?) kepada Tuhannya tanpa berdoa/zikir/wirid. Sikap demikian ini tentu bukan jalan keluar yang memberi harapan. Sikap orang yang optimis dalam menghadapi permasalahan akan bertanya “ bagaimana cara penyelesaiannya” yaitu berupaya mencari solusi menuju penyelesaian sesuai yang diharapkan. Tuhan selalu memberi cobaan, namun Tuhan juga memberi batasan bahwa cobaan itu masih mampu diatasi umatnya asalkan mau ikhtiar dengan maksimal.
    Dalam mencari solusi (problem solving) masing-masing individu atau golongan masyarakat mempunyai perbedaan yang spesifik. Ada yang dengan tenang-tenang namun tercapai penyelesaian masalah dengan baik. Ada yang menyelesaikan masalah secara fisik atau secara terbuka supaya didengar banyak orang bahkan mengerahkan masa agar bisa dipublikasikan. Ada yang langsung melalui jalur legal dengan pengacara, dengan yang berwajib/polisi. Ada yang mengatasnamakan HAK Azasi Manusia, tetapi mereka lupa bahwa yang harus diutamakan adalah KEWAJIBAN Azasi Manusia. Hak dan kewajiban ini harus dikelola serasi, selaras dan seimbang dalam masyarakat (PB ps 7 ayat 4).
 
Last Updated on Sunday, 20 April 2008 06:42
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2

Testimonials

Fungsi guru telah berubah menjadi fungsi pawang, maka kembalikanlah pawang itu menjadi guru lagi.
- Romo YB. Mangunwijaya - 

Last Comment

Statistics

Members : 4
Content : 41
Web Links : 18
Content View Hits : 119531