| Pendidikan Karakter Menuju Manusia Indonesia Seutuhnya |
|
|
|
| Written by Jend. Ki Tyasno Sudarto | |||
| Saturday, 29 May 2010 07:00 | |||
|
Para pengamat pendidikan nasional tanah air banyak menyorot bahwa pelaksanaan pendidikan dan pengajaran saat ini cenderung ke aspek kognitif. Pendidikan semacam ini banyak menekankan pada bidang intelektualisme, yang akan menjauhkan kaum terpelajar dengan rakyatnya, selanjutnya memperlebar jurang kaya dan miskin. KHD menuliskan bahwa pendidikan pengajaran yang bermanfaat bagi bangsa adalah pendidikan pengajaran yang merata ke segenap masyarakat bangsa. Sistem among dengan “tut wuri handayani” yang menjadi lambang Diknas, tidak lagi dilaksanakan dengan konsisten. Tujuan utama sistem among adalah memerdekaan peserta didik secara lahir-batin dan tenaganya. Kemerdekaan jiwa ini sangat dibutuhkan para pemimpin maupun rakyat kita pada pra kemerdekaan maupun pada era pembangunan bangsa. Sistem among berlandaskan kodrat alam kuasa Illahi, dimana masing-masing siswa telah memiliki talenta yang berbeda-beda dan guru/pamong hanya bisa tut wuri handayani. Pamong pendidik tidak dibenarkan memaksakan kehendaknya apalagi dengan hukuman paksaan, karena akan menghambat jiwa merdeka sang anak. Bangsa Indonesia wajib bersyukur kepada Tuhan YME karena telah menerima karunia tanah air yang subur dengan kemerdekaan secara de jure. Kewajiban para warga negaranya untuk mengisi dan meneguhkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka karakter berwawasan kebangsaan dan misi bela negara harus menyala di dada kaum muda penerus generasi bangsa Indonesia.
|
|||
| Last Updated on Wednesday, 24 November 2010 05:13 |
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!” (Soewardi Soerjaningrat, “Als Ik Eens Nederlander Was”, De Express, 1913) |
Comments
RSS feed for comments to this post