| IBU |
|
|
|
| Written by PIJAR | |
| Monday, 07 January 2008 22:38 | |
|
Ibu Oleh : Ki Sugeng Subagya Dalam perjalanan melaksanakan pendampingan terhadap sekolah-sekolah di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta akhir bulan Oktober 2007 yang lalu, saya duduk sebangku dengan seorang remaja putra dalam angkutan umum. Layaknya orang dalam perjalanan, kami terlibat obrolan sana-sini. Dari obrolan itu saya dapat informasi bahwa “teman” sebangkuku ini adalah remaja putus sekolah yang hanya tamat SD dan melanjutkan sampai kelas I SMP, sekarang “bekerja” di kota mengamen di perempatan jalan. Sosok Ibu Ketika pertanyaan nakal saya sampai kepada mengapa ia putus sekolah, maka jawabannya sungguh tidak saya duga. Dalam persepsi saya, jawaban yang akan muncul pasti klise, karena tidak adanya biaya atau malas sekolah. Tetapi tidak untuk sahabat baruku ini. Ia putus sekolah karena kasihan pada ibunya yang membanting tulang menafkahi keluarga. Ia ingin membantu mencari nafkah keluarga. Ibunya mencari nafkah keluarga seorang diri sejak ditinggal pergi (entah kemana) oleh bapaknya saat ia kelas IV SD. Sedangkan di rumah masih ada dua orang adiknya yang masih sekolah dan seorang neneknya yang sudah renta. Mereka itu semua sangat tergantung kepada jerih payah ibunya dari buruh tani lahan kering yang tandus. Meskipun dari mengamen setiap lima hari sekali ia pulang ke rumah dengan membawa penghasilan yang cukup, konon rata-rata sehari mengamen ia mendapat uang antara 30.000 sampai 45.000 rupiah, ia ingin berhenti mengamen dan kembali ke sekolah. Hal itu dengan catatan jika ibunya sudah dapat hidup layak tanpa dibebani menanggung nafkah hidup keluarganya. Iseng-iseng ingin tahu persepsi “sahabat baruku” ini tentang ibunya, saya minta bercerita pengalaman apa yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan dari sikap dan perilaku ibunya. Meskipun tadinya sangat keberatan, tetapi setelah saya bujuk mau juga ia bercerita. Kata dia, ibunya adalah wanita yang paling berjasa dalam hidupnya. Peran ibunya tak akan dapat tergantikan oleh siapapun. Saat dalam kandungan ibu memberikan kasih sayangnya dan berbagi makanan dengan bayinya. Ibu rela menjadi “gembrot” menahan rasa sakit di badannya demi anaknya. Taruhan nyawa ketika ia melahirkan. Berikut ini cerita sahabat baruku itu dengan gaya bertutur. Begitu lahir aku adalah makhluk tidak berdaya. Oleh ibuku diasuhnya aku. Diajari makan minum bahkan ngomong dan berjalan. Umur 2 tahun aku sakit, orang bilang aku sakit flex alias paru-paru basah. Aku selalu bangun tengah malam, jika pas kambuh. Setelah hampir 2 tahun bolak balik dirawat Mantri Kesehatan Desa, aku dinyatakan sembuh. Aku bisa melihat senyum bahagia di wajah ibuku. Terlebih saat aku bisa bermain lagi bersama teman-temanku, yang riang bukan hanya hatiku, tetapi juga hati ibuku. Ibu juga bukan wanita lembut memesona seperti kebanyakan ibu teman-temanku. Dia tegas kalau mendidik anak-anaknya. Bahkan cenderung cerewet dan galak. Kami, anak-anaknya-pun pernah dihukum kalau melakukan kesalahan. Aku pernah diikat dengan selendang pada tiang bangunan rumah karena seharian main terus di luar rumah. Pernah pula pantatku di”cetot” gara-gara aku makan di tempat tidur dan duduk di atas bantal. Suatu saat kau terlibat pertengkaran hebat dengan adikku. Nyaris kami berkelahi. Peristiwa ini membuat ibuku menangis. Akhirnya ibu juga juru damai pertengkaran kami itu. Dasar kami anak bandel. Pernah suatu saat di musim kemarau. Bak tampungan air kami kuras airnya untuk mainan. Padahal wilayah kami termasuk daerah sangat sulit air. Pada musim kemarau air harus dibeli dengan harga mahal pula. Mengetahui tingkah kami, ibu mengambil sapu lidi, kami berdua menjadi sasaran gebugan sapu lidi. Ibu adalah keajaiban cinta. Ketika seorang wanita menjadi ibu, ia melebur sukmanya kepada anak-anaknya yang ia kasihi. Dengan kekuasaan tak terbatas atas cinta ia menjadi kekuatan kreasi yang tak terbatas. Membentuk bayi mungil menjadi gadis yang mengagumkan.. Membentuk bayi mungil menjadi ksatria gagah perkasa. Harapan baik ibu adalah doa yang tak dapat ditolak. Ia terbang membubung menyentuh langit-langit surga tanpa halangan. Malaikat terkesima, dan wajah Tuhan akan bersemu tersentuh oleh ketulusannya. Hari Ibu Dari ceritera di atas tergambarkan betapa agung dan anggunnya sosok ibu bagi anak-anaknya. Ibu adalah panutan, tetapi sekaligus juga pengambil keputusan bijak terhadap permasalahan keluarga. Oleh sebab itu tepat kiranya, jika pemerintah memberikan penghargaan terhadap kaum ibu dengan menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Hari Ibu diperingati sebagai penghargaan terhadap jasa ibu, yang sepanjang hidupnya berjuang bukan hanya untuk anak-anaknya, namun juga telah berjuang membentuk dan dan mendidik generasi muda, yang pada gilirannya akan menjadi generasi penerus bangsa. Perempuan yang dikodratkan dapat mengandung, melahirkan dan menyusui anaknya, adalah mahluk yang sangat beruntung, karena dari rahimnya dapat dilahirkan anak-anak. Sampai saat ini, meskipun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran sudah demikian pesatnya, namun masih belum mampu menggantikan fungsi rahim ibu dengan rahim buatan. Ibu sebagai simbol keperempuan dan perempuan sebagai simbol keibuan adalah seperti dua sisi dari sebuah mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dalam arti ibu adalah seorang perempuan dan perempuan adalah seorang ibu. Pengertian ini mempunyai makna yang sangat dalam, karena ibu berjuang bukan karena dia ibu dari anak-anaknya, berjuang untuk masyarakat, dengan naluri keperempuan dan keibuannya. Seharusnya peringatan hari ibu di Indonesia sangat lain dengan peringatan mother/s day di negara-negara dengan pandangan hidup individualisme. Hari ibu yang diperingati di Indonesia bersifat kekeluargaan, yakni ibu yang bukan saja milik keluarga tetapi juga ibu yang milik masyarakat. Pesan-pesan moral yang dihantarkan dalam peringatan hari ibu ini berupaya mengingatkan pada seluruh komponen bangsa bahwa perjuangan ibu yang tidak kenal lelah itu, patut mendapatkan penghargaan yang setimpal. Penghargaan terhadap ibu yang bukan hanya sebatas peringatan pada hari ibu itu saja, namun harus dihargai secara berkesinambungan sepanjang masa. Momentum peringatan hari ibu di Indonesia bertolak dari semangat pembebasan nasib kaum perempuan dari belenggu ketertindasan pada waktu itu. Peristiwa ini terjadi pada Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928 (dua bulan setelah Sumpah Pemuda) yang dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera.. Tujuan kongres ini untuk mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan perempuan Indonesia dan menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam suatu badan federasi yang demokratis tanpa memandang latar belakang agama, politik, dan kedudukan sosial dalam masyarakat. Sifat yang luas dan demokratis dari Kongres Perempuan I ini dibuktikan oleh ikutnya, antara lain, organisasi Wanita Utomo, Wanita Tamansiswa, Putri Indonesia, Aisyiyah, Jong Islamieten Bond bagian Wanita, Wanita Katholik, dan Jong Java bagian Perempuan. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Tuntutan kaum perempuan dalam setiap peringatan hari ibu masih aktual sampai sekarang karena sampai saat ini banyak kaum perempuan Indonesia belum mendapatkan hak-haknya dan persatuan gerakan perempuan di Indonesia belum terwujud. Bahkan, dalam konteks berorganisasi keberadaan organisasi perempuan sekarang ini harus diakui jauh tertinggal dari masa itu. Adalah kewajiban penting dari gerakan perempuan dan gerakan rakyat saat ini untuk meneruskan tradisi maju yang telah diletakkan di Indonesia pada titik sejarah yang sangat bermakna itu. Meskipun tuntutan kemajuan kaum perempuan dan pengakuan atas peran dan eksistensi ibu tidak diragukan lagi, namun hendaklah kemajuan dan peran serta eksistensi itu selaras dengan kodrat perempuan yang keibuan. Hal itu sesuai dengan pesan Ki Hadjar Dewantara dalam karya lagu gending Asmaradana dengan senggakan yang berjudul “Wasita Rini”. Makna “wasita rini” dalam bahasa Indonesia dapat dikutip bebas serbagai berikut : 1. Pokok ajaran kewanitaan, di zaman dulu dan sekarang, sungguh tak ada bedanya, kedua-duanya hendak menjaga para wanita, agar suci serta selamat, terhindar dari marabahaya. 2. Bedanya di zaman ini, yang disebut zaman merdeka, segenap umat menentang kekuasaan dan penguasa pihak lain, begitulah orang wanita, tak suka diperlakukan sekehendak orang lain. 3. Ingatlah para wanita, merdeka itu tidak hanya berarti, lepas dari perintah orang lain, namun pula kuat dan mampu, untuk menguasai diri sendiri, karenanya janganlah dilupakan, bahwa hak dan kewajiban tidak terpisahkan. 4. Adapun yang disebut wajib, ialah segala kesiapan dan kesediaan, lahir dan batin, barulah menyusul hak melaksanakan kehendak diri sendiri, karena kamu sudah memiliki neraca, untuk menimbang apa yang baik dan apa yang tidak baik. 5. Wahai para wanita semua, yang memelihara jiwa merdeka, wajib mengetahui kepentingannya, kecerdasan rasa dan cipta, memberi kemerdekaan hidup, adapun kesusilaan adalah pagar keselamatan bagi dirimu. Selanjutnya, senggakan atau ulangan lagu gendhing asmaradana “wasita rini” ini berbunyi : Hai para gadis, yang mencita-citakan kemerdekaan wanita, janganlah dilupakan, di dalam kamu bersenang-senang, untuk tetap bersusila dalam segala tingkah lakumu. Ki Sugeng Subagya Pamong Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta
|
|
| Last Updated on Tuesday, 08 January 2008 09:05 |
"TANAH air kita meminta korban. Dari di sinilah kita, siap sedia memberi korban yang sesuci-sucinya... sungguh, korban dengan ragamu sendiri adalah korban yang paling ringan... memang awan tebal dan hitam menggantung di atas kita. Akan tetapi percayalah di baliknya masih ada matahari yang bersembunyi... kapan hujan turun dan udara menjadi bersih karenanya?" - Ki Hadjar Dewantara - |
Comments
RSS feed for comments to this post