| Inovasi itu Niteni, Nirokke dan Nambahi |
|
|
|
| Written by PIJAR | |||
| Monday, 07 January 2008 22:42 | |||
|
PIJAR NOPEMBER Inovasi itu ‘Niteni, Nirokke’ dan ‘Nambahi’ Suatu sore, tepatnya Selasa tanggal 4 September 2007, sambil menunggu waktu shalat maghrib, iseng-iseng saya memegang remote control televisi. Pencet sana-sini, ternyata tidak ada acara yang menarik minat untuk ditonton. Ketika akan beranjak dari kursi depan televisi, secara tidak sengaja jemari saya menyentuh satu tombol remote control dan sesaat itu pula berubahlah chanel ke siaran berita petang sebuah stasiun televisi swasta nasional. Tertarik berita utama yang disiarkan, saya simak baik-baik ketika presenter membacakan berita yang dilengkapi pula dengan tayangan gambar. PT Dirgantara Indonesia Pailit. Demikian tajuk berita televisi itu. Di layar kaca tampak Mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memanjatkan doa sebagai ungkapan rasa syukur mereka menyambut keputusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menyatakan PTDI pailit. Ratusan mantan karyawan PT DI ini mengikuti sidang sampai selesai di luar gedung pengadilan. Pada bagian kedua berita televisi petang itu masih berlanjut hal yang sama, namun beda substansi. Intinya, pemerintah akan melakukan perlawanan secara hukum terhadap putusan Pengadilan Niaga yang menjatuhkan vonis pailit bagi PT Dirgantara Indonesia. "Kita akan melakukan kasasi kepada Mahkamah Agung (MA) dalam waktu yang secepatnya. Kami berharap keputusan Mahkamah Agung akan berbeda," kata Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil. Keputusan memailitkan PT DI menjadi semakin menarik diikuti beritanya. Bukan hanya karena kategori berita “news”. Lebih dari itu, pro-kontra pendapat yang mengikutinya juga tidak kalah menariknya. Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan, PT DI perlu dipertahankan untuk mendukung kepentingan industri alat utama sistem pertahanan (alutsista) di Indonesia. "Konsekuensi dipailitkan itu besar sekali dan berantai," ujarnya. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, MS Hidayat juga meminta pemerintah mempertahankan keberadaan industri berteknologi tinggi itu. Dia menyebutkan, PT DI merepresentasikan kemampuan Indonesia sebagai negara berkembang dalam menguasai teknologi canggih. Benar adanya, satu setengah bulan kemudian, tepatnya pertengahan tanggal 24 Oktober 2007 Mahkamah Agung Republik Indonesia membuat keputusan Kasasi pembatalan memailitkan PT DI. Dampak berita televisi itu bagi diri saya, membawa ingatan saya ke suasana lebih kurang dua puluh satu tahun yang lalu. Saat itu, sebagai pamong muda (baik muda pengalaman dan muda usia, karena saat itu saya berusia 23 tahun), saya ditugasi pimpinan Taman Madya (SMA) Ibu Pawiyatan Tamansiswa untuk membimbing 84 orang siswa program Ilmu-ilmu Fisika (A-1) studi lapangan ke PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) di Bandung. IPTN adalah nama PT DI sebelum berubah. Dari kunjungan itulah saya berkesempatan makan pagi bersama dengan Kepala Divisi Humas PT IPTN dan mendapat penjelasan tentang pengembangan teknologi kedirgantaraan Indonesia, terutama pembuatan pesawat terbang oleh PT IPTN. Bermula dari sebuah angan-angan menjadi negara yang memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi canggih, maka di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie sebagai Direktur Utama PT. IPTN, dikembangkan teknologi kedirgantaraan pembuatan pesawat terbang. Tentu peran BJ Habibie tidak boleh mengesampingkan perintis PT. IPTN itu sendiri, ialah Marsekal Muda Nurtanio. Mula-mula, program ini bekerjasama dengan pabrik pesawat CASA dari Spanyol dan Bell Technologies Inc, Amerika Serikat. Didatangkanlah pesawat buatan CASA kemudian oleh putra-putra bangsa Indonesia pesawat ini dipelajari detailnya dan dikuasai teknologinya. Jadilah pesawat CASA dengan prototipe baru, ialah CN, atau CASA NUSANTARA. Misalnya CN 25, CN 235 dan sebagainya. Lama kelamaan huruf C (CASA) dalam prototipe pesawat buatan IPTN hilang. Tinggallah jenis prototipe N atau Nusantara. Ini berarti pesawat-pesawat terakhir seratus persen dibuat oleh putra-putra terbaik bangsa Indonesia sendiri. Dari sinilah lahir pesawat-pesawat baru yang di samping semakin canggih juga menakjubkan, Puncaknya, ketika pada tahun 1995 dilakukan roll-out N-250, berbagai perasaan campur-baur ada dalam benak setiap warga bangsa ini. Bangga dan Kagum dan nyaris tidak percaya bahwa negara yang dikenal sebagian besar dihuni petani dan pelaut ini toh akhirnya berhasil juga menuntaskan pesawat yang begitu indah dan canggih. BJ. Habibie mengembangkan konsep ''berawal dari akhir dan berakhir dari awal''. Konsep itu diterjemahkan ke dalam empat tahap. Tahap pertama, Nurtanio bekerja sama dengan pabrik yang sudah lebih dulu eksis dan memiliki pesawat terbang yang sudah teruji. Lewat pola lisensi macam ini, Nurtanio diproyeksikan bisa membuat pesawat terbang sendiri, sembari mendapat transfer pengetahuan. Tak hanya satu, tapi Nurtanio menjalin kerja sama dengan dua pabrik pesawat terbang besar, yaitu Construcciones Aeronaticas SA (CASA) dari Spanyol dan Bell Technologies Inc, Amerika Serikat. Di awal kiprahnya itu, Nurtanio memproduksi pesawat terbang NC-212 dan merakit helikopter NBO-105. Setahun kemudian, Nurtanio menambah varian produk rakitannya, yaitu helikopter NSA-330 Puma dan NAS-332 Super Puma milik Aerospatiale (Prancis) dan helikopter Nbell-412 dari pabrik Bell Technologies Inc, Amerika Serikat. Seluruh komponen pesawat itu didatangkan dari pabrik pembuatnya. Dalam beberapa tahun berikutnya, Nurtanio diharapkan mampu mengurangi persentase komponen dari pabrik asalnya. Di Nurtanio kemudian diproduksi rangka pesawat terbang. Cita-citanya, seluruh komponen pesawat itu diproduksi di Bandung. Pada tahap kedua perjalanan Nurtanio, dimulai usaha membuat rancang bangun dan memproduksi pesawat sendiri. Pola lisensi ditinggalkan, meski Nurtanio tetap bermitra dengan pabrik pesawat terbang ternama. Pada tahap ini, Nurtanio pun menggandeng CASSA. Kedua badan usaha itu lantas membuat perusahaan patungan bernama ''Airtech Industries'' pada 1979. Produk pertama yang dihasilkan perusahaan patungan itu ialah rancang bangun CN-235, pesawat penumpang berkapasitas 35 orang, bermesin turboprop ganda CT-7. Desain ini kemudian diproduksi kedua perusahaan itu di negaranya masing-masing. Di tengah-tengah tahap kedua ini pula, Nurtanio berubah nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Pada 1985, dua prototipe CN-235 diperkenalkan oleh CASA dan IPTN secara terpisah. CASA menamai prototipe itu ''Infanta Elena'' dan memperkenalkannya di Spanyol, sedangkan IPTN mempersembahkan ''Tetuko''. Dua tahun kemudian, secara komersial CN-235 diterbangkan oleh maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines. Maskapai ini mengoperasikan sebanyak 15 unit CN-235. Tahap berikutnya semakin manakjubkan, yaitu membuat rancang bangun dan memproduksi sendiri pesawat terbang baru yang menggunakan teknologi terbaru. IPTN pun datang dengan konsep pesawat berkode N-230 pada 1989. Dua tahun kemudian, proyek ini diberi kode N-250. Pesawat ini menggunakan dua mesin turboprop GMA-2500 dan bisa menampung 50 penumpang. N-250 juga dilengkapi dengan teknologi ''fly by wire''. Roll out prototipe N-250 dilakukan bertepatan dengan Hari Pahlawan tahun 1994.. Prototipe ini diberi nama ''Gatotkaca''. Tepat seminggu sebelum perayaan hari ulang tahun ke-50 kemerdekaan RI, N-250 melakukan penerbangan perdana. Desain N-250 sendiri mengalami banyak perubahan. Terakhir, sebelum krisis moneter melanda Tanah Air, IPTN datang dengan varian N-250-100, pengembangan seri awal yang bisa menampung hingga 68 penumpang. Lepas dari pailit tidaknya PT DI, dalam soal alih teknologi berupa inovasi atau penemuan baru, selalu dimulai dari apa yang disebut meniru. Bahkan ilmuwan besar seperti Thomas Alfa Edisson-pun berusaha memanfaatkan hasil karya orang lain sebagai langkah awal riset dia. Dalam konsepsi Ki Hadjar Dewantara, dikenal istilah 3 N, ialah Niteni, Nirokke, dan Nambahi. Niteni adalah suatu kegiatan memperhatikan dengan teliti dan seksama untuk mengenali ciri-ciri sesuatu sehingga difahami detail-detailnya yang diamati itu. Nirokke adalah kegiatan mencontoh atau mengikuti bagaimana orang lain melakukan sesuatu sehingga menghasilkan suatu produk. Sedangkan nambahi, adalah kegiatan meberi tambahan sehingga dihasilkan produk yang baru yang memiliki nilai tambah. Tiga langkah tersebut adalah langkah penting transfer pengetahuan. Awalnya kita melihat dengan teliti dan mencatat ciri-ciri dari sesuatu yang kita akan ambil ilmunya. Tahap berikutnya adalah proses belajar dengan mencontoh yang sudah ada hingga kita bisa dengan persis menyamainya. Baru tahap selanjutnya kita bisa menambahkan sesuatu untuk membuatnya lebih bagus dan sempurna. Inilah filosofi yang dipakai Jepang untuk mengejar ketertinggalan dari negara Barat di masa restorasi Meiji dulu. Rumus sama yang kemudian dipakai Cina, Taiwan, India, dan lainnya. Untuk inovasi, ternyata kita tidak harus susah payah “mencipta” sendiri. Kita dapat belajar dari orang lain, sebagaimana konsep Ki Hadajar Dewantara dengan niteni, nirokke dan nambahi. Konsep ini diimplementasikan dengan baik dan berhasil oleh BJ. Habibie dengan mottonya ''berawal dari akhir dan berakhir dari awal''. Nah, yuk kita mulai berinovasi. Siapa takut !! ”Timeline” Perjalanan PT. Dirgantara Indonesia 1 Agustus 1960 : Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) diresmikan. 29 Juli 1966 : LAPIP diubah menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR). 28 April 1976 : PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) berdiri dengan B.J. Habibie selaku direktur utama. 23 Agustus 1976 : - Presiden Soeharto meresmikan IPTN. - Program produk lisensi bekerja sama dengan CASA dan MBB dimulai. Nurtanio memproduksi NC-212 dan helikopter NBO-150. Tahun 1977 : Kerja sama dengan Aerospatiale dan Bell Technologies Inc dijalin, Nurtanio memproduksi helikopter NSA-330 Puma, NSA-332 Super Puma, dan Nbell-412. Tahun 1979 : ''Airtech'', perusahaan patungan antara Nurtanio dan CASA, dibentuk. Tahun 1983 : Desain CN-235 dihasilkan. Pesawat terbang ini didesain mengusung dua mesin turboprop CT-7 dan mampu menampung 35 penumpang. 11 Oktober 1983 : PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) berubah menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Tahun 1985 : Penerbangan perdana CN-235 ''Tetuko'' di Indonesia dan ''Infanta Elena'' di Spanyol. Tahun 1987 : CN-235 dipakai secara komersial oleh PT Merpati Nusantara Airlines, yang membeli 15 unit. Tahun 1989 : Proyek N-230 disiapkan. Tahun 1992 : N-230 menjadi N-250. Pesawat baru ini menggunakan dua mesin turboprop GMA-2500 dan mampu mengangkut 50 penumpang. 10 November 1994 : Roll out prototipe N-250 ''Gatotkaca''. Pada hari yang sama, diresmikan proyek N-2130, pesawat bermesin jet ganda dengan kemampuan angkut 130 penumpang. Tahun 1997 : Produksi pesawat N-250 dihentikan dan belum pernah mendapatkan sertifikasi laik terbang. 29 Oktober 1997 : Demonstrasi karyawan pertama dalam sejarah IPTN. 24 Agustus 2001 : IPTN mengubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI) atau Indonesian Aerospace (IAe), yang diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid. 28 April 2003 : PT DI menyerahkan sayap pesawat Airbus 380 kepada British Aerospace. 12 Juli 2003 : Sebanyak 9.670 karyawan PT DI dirumahkan.. 4 September 2007 : PT. DI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Tata Niaga Jakarta Pusat. 24 Oktober 2007, Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia membatalkan keputusan Pengadilan Tata Niaga Jakarta Pusat berkaitan dengan kasus pailit yang menimpa PT DI. Ki Sugeng Subagya Pamong Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta ( Disarikan dari berbagai sumber)
|
|||
| Last Updated on Tuesday, 21 December 2010 07:16 |
Kalau dulu tidak ada orang yang bernama Suwardi Suryanigrat yang kemudian menjadi Ki Hadjar Dewantara, keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia niscaya tak akan seperti yang kita alami. - Bung Karno (Presiden RI pertama) - |
Comments
RSS feed for comments to this post