DAHULUKAN KEWAJIBAN DARIPADA HAKNYA PDF Print E-mail
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Wednesday, 24 November 2010 04:54
Kepergian mbah Maridjan meninggalkan pelajaran yang penuh kearifan. Gajah meninggalkan gading, harimau meninggalkan belang, manusia meninggalkan nama, sungguh sangat tepat. Sewaktu kami tanyakan kepada beberapa kawan “Sanggupkah anda berperilaku setia layaknya mbah Maridjan abdi dalem juru kunci gunung Merapi?” Banyak orang tergagap dan tidak bisa menjawab, bahkan beberapa orang mengatakan perilaku mbah Maridjan aneh. Tapi saat kami berargumen bahwa mbah Maridjan-lah yang sewajarnya, sedang kita ini berperilaku tidak wajar. Betapa tidak, almarhum memegang teguh “amanah” tugasnya, mendahulukan kewajiban daripada haknya, menjalankan tugas dengan penuh percaya diri. Mbah Maridjan menunjukkan pribadi asli manusia Timur yang sederhana, sabar, santun, teguh setia, tepo sliro, gotong royong, menyatu dengan alam dan jaman, sadar akan kuasa kodrat Illahi, taat beragama, rela berkorban. Walau pendidikan SD tidak sempat lulus, namun mbah Maridjan belajar dengan system “learning by doing”. Tanpa sadar almarhum menerapkan konsep “setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru” memperkuat ilmu titennya membaca bahasa alam. Kepribadian spiritual ketimuran tampak kental dalam aura dan setiap perilakunya. Para petinggi RI hingga rakyat umum wajib berkaca kepada perilaku mbah Maridjan yang konsisten dengan keindonesiaan. Saat ini semua mesmedia hingga website banyak meliput berita mbah Maridjan yang setia, gagah berani “rosa-rosa”.

Sebagai budayawan pejuang Sultan Hamengkubuwono I memberikan pedoman 4 butir laku pengabdian kawulanya yaitu sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh (menyatu dengan tugas, menghayati tugas dengan semangat, percaya diri, tidak ingkar kepada kewajiban). Semula pedoman ini populer di kalangan seniman tari di Keraton Yogyakarta guna menghayati peran yang ditarikan. Ternyata  pedoman tersebut cocok pula diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang harus “nyawiji” (menyatu) dengan tugas kewajiban, dengan alam dan jamannya. Mbah Maridjan sebagai abdi dalem benar-benar meleburkan diri dalam kewajiban dan sadar akan resikonya hingga titik darah terakhir. “Greget” mbah Maridjan dalam setiap peri lakunya merupakan bukti kesadaran dan penghayatan akan kewajiban tugasnya dengan moto sami’na wa atona. Abdi yang setia, panutan masyarakat desa, peka terhadap dinamika budaya itulah mbah Maridjan. “Sengguh” atau kepercayaan dirinya sangat kuat bahkan saat terjadi beberapa kali situasi kritis di lereng Merapi, intuisi “ilmu titennya” membuatnya tidak mau mengungsi. Walau diperintah oleh Bupati, Komandan satuan bahkan Sultan Yogyakarta, tetap saja mbah Maridjan pada pendiriannya tidak mau mengungsi. Keteladanannya terlihat juga pada sikapnya “ora mingkuh” tidak mau ingkar menjalankan resiko tugasnya. Mendahulukan kewajiban daripada haknya untuk menyelamatkan diri lebih dahulu. Saat terakhir sebenarnya 2 rekan wartawan telah berhasil mengajak beliau turun namun mohon waktu untuk sholat terlebih dahulu. Bersamaan terjadilah serangan phyroclastic atau wedus gembel yang meluluhlantakkan Kinahrejo, saat almarhum khusuk bersujud. Itulah jalan terhormat bagi syuhada yang meninggal dengan khusnul khotimah.
Sejatinya semua jabatan baik pegawai/petugas dari tingkat bawah s.d pemimpin negeri ini hanyalah pemangku amanah negara/instansi/perusahaan si pemberi tugas. Bila  tugas pokok kewajiban tunai sudah, maka hak pribadi akan meningkat seiring dengan prestasi kinerjanya. Rela berkorban jiwa raga bagi pemberi amanah demi kemaslahatan rakyat banyak harus diutamakan. Namun ketika semua jabatan dari staf pegawai, lurah hingga presiden harus dicapai dengan biaya yang aduhai, maka tidak mustahil kewajiban menjadi terpinggirkan terkalahkan oleh berbagai hak. Di jaman “edan” ini banyak orang merasa “ora keduman” namun ada pula yang “ora tahan yen melu ngedan”. Membujuk almarhum menjadi sebuah bintang iklan tidaklah mudah, karena risih bila dikatakan “mata duitan”. Akhirnya produser iklan membujuk bahwa kalau dapat uang iklan akan lebih leluasa memberi santunan sodakoh kepada yang membutuhkan, baru bersedia menjadi bintang iklan. Betapa almarhum tidak mau semata-mata publikasi diri terlihat dari sikap sering risih menutup muka dihadapan kamera. Itulah Mas Penewu Suraksohargo alias mbah Maridjan tokoh budaya Jawa dari lereng Merapi.
Masih cukup banyak “mbah Maridjan” lain di lereng Merapi bahkan di Nusantara yang dengan kuat memegang teguh kearifan lokal. Ketika beberapa penduduk desa lereng tidak mau turun mengungsi walau situasi kritis, hal itu karena percaya diri pada ilmu lokal “titen”. Mereka pandai bersyukur dan menikmati hidup tenteram di alam pegunungan, dan sejak dahulu menentukan pola tanam, membaca alam memakai ilmu nenek moyang.  Khususnya di wilayah DIY masyarakat banyak berpegang pada laku hidup yang sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh. Sejatinya rakyat daerah tidak terbiasa dengan publikasi, demonstrasi unjuk rasa, corat-coret, protes, aksi anarkis namun tetap patuh pada aturan adat dan ketentuan perundangan. Mbah Maridjan mendidik generasi muda dengan contoh perilakunya. Sepeninggal almarhum masih cukup banyak pengawal Republik ini yang erat berpegang pada warisan budaya dan hidup menyatu dengan alam dan jamannya. “Manunggaling Kawulo kalawan Gusti” dalam mikro dan makro kosmos. Keistimewaan DIY bukan hanya pada bentuk pemerintahannya, namun didukung kuat oleh budaya yang mengakar direlung hati rakyat. Mbah Maridjan telah meninggalkan kita, namun konsentrisitas budaya kearifan lokal masih melekat dihati masyarakatnya.  Semoga mBah Maridjan mendapat  ketenteraman di alam barzah.

(Ki Priyo Dwiarso, anggota Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa).

Last Updated on Wednesday, 24 November 2010 05:12
 

Comments  

 
+1 #2 Junaidi Abdullah 2011-03-19 18:27
Salam dan bahagia

Mendahulukan kewajiban daripada hak semestinya harus dilakukan bersamaan antara pemberi amanah dan penerima amanah. Pemberi amanah juga memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak penerima amanah, di lain pihak penerima amanah juga harus memiliki kewajiban untuk melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Dalam dunia kerja, seorang karyawan mestinya berprinsip untuk mendahulukan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Sebaliknya perusahaan juga harus mendahulukan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak karyawannya.

Salam
Quote
 
 
0 #1 Dian SP 2010-11-26 15:54
Salam Bahagia

Kalau saja para penguasa dan wakil rakyat negeri ini bisa memahami dan belajar dari sikap dan prinsip Mbah Maridjan, maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang bermartabat

Ayo wong Taman Siswa, kita berlomba untuk mendahulukan kewajiban daripada hak, karena dengan terpenuhinya kewajiban maka masyarakat tertib damai salam bahagia akan cepat terwujud.

Salam
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Testimonials

Bila Engkau melihat anak bangsa, lihatlah sebagaimana mawar, jika engkau melihat janganlah engkau pandang durinya, sebab jika engkau pandang durinya engkau akan membayangkan tempat sampah dan lubang pembakarannya; maka lihatlah mawarnya, dan jika engkau melihat mawarnya maka engkau akan menjadi penjaga taman.

- Ki Hadjar Dewantara - 

Last Comment

Statistics

Members : 4
Content : 43
Web Links : 18
Content View Hits : 126644