slideshow
Pidato Ketua Umum, Ulang Tahun Tamansiswa ke-92 PDF Print E-mail
Sambutan
Written by admin   
Tuesday, 01 July 2014 03:51

Salam dan bahagia

Para Pinisepuh Tamansiswa yang saya muliakan

Seluruh Keluarga Besar Tamansiswa yang berbahagia

Para pecinta, simpatisan dan sahabat Tamansiswa yang saya hormati

 

               Hari ini tanggal 3 Juli 2014 kita memperingati Ulang Tahun Tamansiswa ke-92.

            Dalam setiap peringatan Ulang Tahun Tamansiswa, tidak bisa tidak pastilah berkobar di hati kita rasa Kebangsaan dan Komitmen Kerakyatan serta Pekerti Luhur yang menjadi ciri Tamansiswa.

  Perguruan Nasional Tamansiswa didirikan pada tahun 1922, yaitu 92 tahun yang lalu, sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat melalui sarana pendidikan bangsa, guna mempersiapkan generasi muda yang berjiwa merdeka lahir batinnya, untuk menyongsong dan mengisi Kemerdekaan Bangsa.

           Dengan demikian itu maka pendirian Perguruan Nasional Tamansiswa mengemban “tugas budaya” yang tidak ringan. Jauh-jauh hari sebelum saya berada dalam Pimpinan Tamansiswa, telah saya kemukakan pendapat saya mengenai “pernyataan kemerdekaan” yang tak lain adalah suatu “pernyataan budaya”. Hal ini saya ungkap kembali pada Orasi saya sebagai pribadi ketika saya menerima penghargaan “Anugerah HB IX” untuk IPTEK dari Universitas Gadjah Mada pada Dies Nataliesnya yang ke-64 pada tanggal 19 November 2013 yang lalu. Tanpa saya perkirakan sebelumnya pernyataan ini selaras dengan pandangan dasar Tamansiswa itu. Dari sini saya bisa lebih lanjut menguraikan “tugas budaya” yang harus kita emban bersama sebagai Keluarga Besar Tamansiswa, yaitu tugas untuk menjadi manusia yang berjiwa merdeka lahir dan batin.

Last Updated on Tuesday, 01 July 2014 12:40
 
REAKTUALISASI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA PDF Print E-mail
Artikel
Written by Ki Tyasno Sudarto   
Saturday, 07 April 2012 20:09

Ki Hadjar Dewantara (KHD) sejak remaja telah timbul keberaniannya melawan penjajah dengan berkelahi melawan "sinyo" anak ambtenar/pegawai Belanda. Pemikiran KHD mulai tertata di ranah politik dikala memasuki Stovia dan bergabung dengan seniornya dr Soetomo dimana KHD sebagai seksi propaganda (publikasi). Jiwa jurnalis-pejuangnya berkembang melahirkan tulisan-tulisan yang lebih tajam daripada pedang penjajah. Keluar masuk penjara penjajah sudah dilakoni KHD beberapa kali, namun bagai Gatutkaca dari Kawah Candradimuka malah semakin membuatnya tabah pantang mundur. Tulisan satire "Andai Aku Seorang Belanda" membawanya dibuang ke Negeri Belanda. Atas dorongan sang isteri, bidang juangnya diteruskan melalui bidang pendidikan dengan meneruskan pendidikan paedagogi untuk bekal mendidik bangsa. KHD sadar betul bahwa kebodohan dan belenggu penjajahan sangat menghambat kemajuan sebuah bangsa. Ditekuninya ilmu pendidikan pengajaran kemudian disesuaikan dengan pra kondisi local wisdom di tanah air. Lahirlah ajaran-ajaran KHD yang membumi namun tidak kalah bermutu dengan metoda pendidikan bangsa Eropa.

 
Implementasi Pendidikan Karakter melalui Kearifan Lokal di Perguruan Tamansiswa PDF Print E-mail
Artikel
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Saturday, 20 November 2010 07:00
(Ki Priyo Dwiarso)
Presentasi di UNY tanggal 20 November 2010
I.    KODRAT ALAM  (Cirikhas 1 Tamansiswa) :
Sebagai perwujudan kekuasaan Tuhan YME mengandung arti bahwa hakekat umat manusia adalah menyatu dengan alam semesta dan tidak dapat lepas dari hukum kodrat alam. Manusia akan bahagia bila menyelaraskan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan.
Hari berganti minggu, berganti bulan, berganti tahun selalu bertambah dan tidak pernah mundur ataupun berhenti, itulah kodrat alam kuasa Illahi. Budaya manusia selalu mengalami kemajuan dan interaksi antar bangsa tak terelakkan sesuai hukum kodrat alam. Demikianlah Ki Hadjar Dewantara (KHD) memberi pedoman olah budaya bangsa dengan TRIKON (Kontinyu, Konvergen, Konsentris)
Last Updated on Wednesday, 24 November 2010 05:11
 
KONSEP KI HADJAR DEWANTARA BUKAN KEJAWEN PDF Print E-mail
Artikel
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Saturday, 07 April 2012 20:04

Konsep budaya dan pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) banyak mempergunakan istilah bahasa Jawa, sehingga ada yang mengatakan dengan dangkal bahwa konsep KHD berbasis Kejawen. Istilah "kejawen" dalam konteks ini bisa merugikan karena berkonotasi negatif sempit. Memang ajaran KHD banyak menggunakan istilah bahasa Jawa misalnya "tut wuri handayani", "wiyata griya", "sistem among", "ngerti-ngroso-nglakoni". Bahkan sarasehan Rebo Wagen lebih memperberat konotasi negatif tersebut. Padahal Rebo Wagen diambil KHD dari hari kelahiran Pangeran Diponegoro agar dapat mewarisi api juangnya. Sarasehan Rebo Wagen dapat dilaksanakan pada hari Minggu, Jumat atau lainnya.

 
DAHULUKAN KEWAJIBAN DARIPADA HAKNYA PDF Print E-mail
Artikel
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Wednesday, 24 November 2010 04:54
Kepergian mbah Maridjan meninggalkan pelajaran yang penuh kearifan. Gajah meninggalkan gading, harimau meninggalkan belang, manusia meninggalkan nama, sungguh sangat tepat. Sewaktu kami tanyakan kepada beberapa kawan “Sanggupkah anda berperilaku setia layaknya mbah Maridjan abdi dalem juru kunci gunung Merapi?” Banyak orang tergagap dan tidak bisa menjawab, bahkan beberapa orang mengatakan perilaku mbah Maridjan aneh. Tapi saat kami berargumen bahwa mbah Maridjan-lah yang sewajarnya, sedang kita ini berperilaku tidak wajar. Betapa tidak, almarhum memegang teguh “amanah” tugasnya, mendahulukan kewajiban daripada haknya, menjalankan tugas dengan penuh percaya diri. Mbah Maridjan menunjukkan pribadi asli manusia Timur yang sederhana, sabar, santun, teguh setia, tepo sliro, gotong royong, menyatu dengan alam dan jaman, sadar akan kuasa kodrat Illahi, taat beragama, rela berkorban. Walau pendidikan SD tidak sempat lulus, namun mbah Maridjan belajar dengan system “learning by doing”. Tanpa sadar almarhum menerapkan konsep “setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru” memperkuat ilmu titennya membaca bahasa alam. Kepribadian spiritual ketimuran tampak kental dalam aura dan setiap perilakunya. Para petinggi RI hingga rakyat umum wajib berkaca kepada perilaku mbah Maridjan yang konsisten dengan keindonesiaan. Saat ini semua mesmedia hingga website banyak meliput berita mbah Maridjan yang setia, gagah berani “rosa-rosa”.
Last Updated on Wednesday, 24 November 2010 05:12
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 1 of 5

Testimonials

Bila Engkau melihat anak bangsa, lihatlah sebagaimana mawar, jika engkau melihat janganlah engkau pandang durinya, sebab jika engkau pandang durinya engkau akan membayangkan tempat sampah dan lubang pembakarannya; maka lihatlah mawarnya, dan jika engkau melihat mawarnya maka engkau akan menjadi penjaga taman.

- Ki Hadjar Dewantara - 

Last Comment

Login Form



Online Support

Polls

Menurut pendapat anda bagaimana dengan Tamansiswa?
 

Who's Online

We have 1 guest online

Statistics

Members : 4
Content : 55
Web Links : 18
Content View Hits : 151129